piyouh…

terpesona panorama waduk Keuliling Aceh Besar

salah satu sisi wadukKamis (19/02/09)sebuah rombongan kecil meluncur dari pekarangan Hotel Hermes Palace, di jalan TP Nyak Makam, Banda Aceh. Didalam rombongan itu terdapat Gubernur Aceh Irwandi Yusuf dan Menteri Kehutanan Republik Indonesia MS. Kaban.

 

Rombongan ini akan melakukan perjalanan sejauh 35 kilometer dari kota Banda Aceh, tepatnya ke lokasi wilayah Desa Bak Sukon, kemukiman Lam Leu’ot, Kecamatan Kuta Cot Gle, Kabupaten Aceh Besar. Kedua pejabat tertinggi dijajarannya masing-masing itu akan meninjau lokasi pembangunan Waduk Keuliling atau Bendungan Keuliling yang hampir rampung dikerjakan.

 

Tujuan utama dari tinjauan tersebut adalah untuk melihat sejauh mana Waduk Keuliling tersebut telah rampung serta melihat kesiapan pengelola Waduk dalam menyediakan air baku untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Aceh Besar dan Banda Aceh.

 

Waduk ini merupakan bendungan terbesar di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang selain memiliki manfaat juga terlihat mengagumkan  dengan paduan keindahan alam Aceh Besar yang masih sangat alami.

 

Indah menyegarkan

Keluar dari ramainya kota Banda Aceh untuk mencapai lokasi tersebut, ada beberapa titik yang harus dilalui, setelah melewati Kecamatan Indarapuri, Gubernur beserta rombongan harus melalui jalanan berkerikil dan berdebu lebih kurang 3,5 Km dari jalan Banda aceh-Medan.

 

Namun, perjalanan tidak terasa melelahkan, karena pemandangan sepanjang jalan sangat menyegarkan mata dengan keindahan panorama alam berupa hamparan sawah menghijau, bukit-bukit kecil, pepohonan yang tumbuh liar dan perkebunan masyarakat.

 

Lokasi bendungan keliling yang terdapat di ujung jalanan berkerikil tersebut memiliki catchment area seluas 38,20 Km2 yang berarti bahwa bendungan ini mampu menampung air dalam jumlah yang sangat besar (tampungan total air baku di waduk tersebut adalah 18.359.078 meter kubik).

 

Bendungan luas tersebut dikelilingi oleh hamparan bukit-bukit kecil dengan panorama alam yang sangat indah sehingga sangat pantas untuk dikunjungi, Secara kasat mata bendungan yang memiliki usia guna sampai 50 tahun itu lebih mirip sebuah sungai alami dengan kejernihan air yang luar biasa.

 

Yang sangat menarik adalah wilayah hutan dan sawah di sekitar waduk dengan kontur tanah perbukitan yang landai tersebut bisa dilalui dengan  kendaraan roda empat dan roda dua tanpa kesulitan yang

berarti.

 

Di area Bendungan keliling atau waduk Keuliling, Gubernur beserta Menteri Kehutanan mengunjungi beberapa view points yang menyuguhkan pemandangan yang strategis.

 

Disana Gubernur dan Menhut mendengarkan paparan dari pengelola waduk mengenai pengembangan areal persawahan didaerah irigasi Keuliling hulu dan irigasi Keuliling hilir yang kekurangan debit air dari Krueng Aceh extension dan Krueng Jreu disuplai dari Waduk Keuliling ini.

 

Sangat potensial

Dalam tinjauan selama lebih dari satu jam tersebut, Gubernur menyampaikan kepada para pejabat yang hadir bahwa wilayah kecamatan Kuta Cot Gle yang merupakan lokasi bendungan sangat potensial untuk diberdayakan untuk mengembangkan ekonomi masyarakat setempat.

 

Tidak kalah pentingnya, sentra ekonomi masyarakat Aceh Besar adalah di sektor pertanian, maka pembangunan waduk ini sangat bermanfaat bagi masyarakat lokal terutama pemilik lahan  pertanian karena  secara total sawah yang akan diairi oleh Waduk ini adalah seluas 4.790,50 Hektar.

 

Gubernur juga mengingatkan kepada pengelola waduk untuk memastikan bahwa debit air tidak berkurang dalam mensupplai kebutuhan kepada masyarakat yang membutuhkan. Gubernur juga menganjurkan pengelola untuk mengingatkan masayarakat lokal agar tidak menjaring ikan di waduk apalagi dalam jumlah yang besar karena dapat mematikan habitat ikan disana yang akan sangat bermanfaat bagi masyarakat dalam jangka waktu 5-6 tahun kedepan.

 

Keindahan alam di wilayah sekitar waduk memang sangat potensial untuk dijadikan sebagai contoh nyata pelestarian lingkungan dan pengembangan pariwisata di wilayah Aceh Besar.

 

Pemkab Aceh Besar harus bergerak cepat untuk membangun sarana-sarana yang menunjang, agar dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan daerah.

 

Walaupun untuk memasuki wilayah tersebut masih harus melalui sekitar 3,5 Km jalanan yang berkerikil dan berdebu yang belum diaspal karena masih digunakan oleh truk-truk yang mengangkut alat berat untuk pembangunan waduk, namun keindahan panorama alam berupa hamparan sawah menghijau, bukit-bukit kecil dan pepohonan yang tumbuh liar menjadi satu pemandangan yang dapat membuat pengunjung betah berlama-lama tidak terkecuali Gubernur dan Menhut.

 

Pasalnya jika dilihat dari sudut pandang manapun, lokasi disekitar waduk tersebut tetap menyuguhkan pemandangan yang sangat alami dan menarik. Pejabat setempat yang hadir dalam tinjauan Gubernur mengatakan bahwa pada akhir pekan tempat tersebut sudah mulai dikunjungi oleh para penikmat wisata alam.

Kontur daerah sekitar Waduk yang berbukit-bukit dan memiliki hamparan rumput halus seperti lapangan golf sangat menarik untuk dijadikan arena relaksasi pecinta alam. Udara yang segar dan sedikit lembab di areal tersebut sangat cocok untuk dijadikan lokasi Outbound seperti di Mata ie.

 

Wilayah tersebut masih sangat asri dengan pemandangan Waduk Keuliling yang dibangun pada sungai Keuliling dengan kilauan air yang jernih dan bening yang tidak membosankan. Bahkan menurut keterangan pengelola, waduk tersebut memiliki catchment area yang sangat bagus yang berarti bahwa airnya tidak keruh walaupun sedang musim penghujan.

 

Selain keindahan airnya, waduk tersebut juga memiliki bermacam-macam ikan yang akan terus dipelihara dan ditingkatkan variasinya dengan menaburkan bermacam-macam benih ikan yang bermanfaat bagi masyarakat, namun untuk saat ini, ikan-ikan tersebut belum boleh dijaring namun bisa dipancing bagi mereka yang hobi memancing atau untuk konsumsi dalam jumlah yang kecil.

 

Waduk Keuliling ini merupakan Waduk pertama yang dibangun di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dengan tipe zonal. Kontsruksinya dimulai pada tahun 2000 dengan didanai oleh biaya APBN sebesar 258 Milyar. Pembangunan ini dimaksudkan untuk melindungi masyarakat petani dari kemungkinan berkurangnya supply air untuk mengairi pertanian mereka.

 

Disamping itu, waduk tersebut dapat meningkatkan keamanan terhadap banjir, mendukung program swasembada pangan khusunya beras yang sedang digalakkan di Aceh, meningkatkan pendapatan daerah melalui penciptaan lapangan kerja di sekitar waduk serta pelestarian lingkungan dan pengembangan wisata.

 

(aprisah banun, tabloid dwi mingguan Seumangat)

Advertisements

March 3, 2009 - Posted by | Uncategorized

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: